Kata “Vertikultur” berasal dari 2 kata bahasa inggris berupa Vertical dan Culture. Vertical artinya tegak lurus atau menurun, dan Culture memiliki arti pemeliharaan, sehingga vertikultur dapat diartikan sebagai teknik pemeliharaan atau pengertian budidaya tanaman dengan pola vertikal (tegak lurus).
Teknik
penanaman secara vertikultur dalam sejarahnya dikenalkan oleh sebuah perusahaan
benih di Swiss pada tahun 1944 yang merujuk sebuah ide Vertical Garden.
Kemudian vertikultur merajalela di negara Eropa yang memiliki iklim sub-tropis.
Pengertian Vertikultur
Pengertian
vertikultur adalah sistem budidaya pertanian yang dilaksanakan secara vertikal
atau bertingkat pada skala indoor maupun outdoor. Umumnya vertikultur dilakukan
menggunakan bangunan atau model wadah tertentu untuk penanaman, tergantung
kondisi tempat dan keinginan setiap orang.
Pengertian Vertikultur Menurut Para Ahli
Sedangkan
menurut definisi vertikultur menurut para ahli, antara lain;
Nitisapto (1993)
Vertikultur
adalah cara bertani atau bercocok tanam menggunakan media tanam dalam
wadah-wadah yang disusun secara vertikal (bertingkat) guna memanfaatkan ruang
atau lahan terbatas.
Indonesia
negara dengan iklim tropis juga mulai menerapkan teknik ini karena sangat
membantu kebutuhan pangan yang meningkat namun ketersediaan lahan yang menurun.
Teknik penanaman secara vertikultur awalnya hanya digunakan untuk ajang pameran
tanaman yang dilaksanakan di taman, kebun maupun rumah kaca.
Saat
ini vertikultur mulai diterapkan dirumah-rumah khususnya para ibu rumah tangga
yang hobi bercocok tanam. Secara umum vertikultur digunakan untuk menanam
sayuran seperti bayam, kangkung, seledri, maupun tanaman hias yang batang
berair.
Jenis Vertikultur
Menurut
Nitisapto (1993), jenis dalam pengertian tabulapot yang dapat digunakan untuk vertikultur yaitu gerabah,
bambu, atau paralon. Jenis-jenis pot tersebut sangat cocok untuk menanam
sayuran dengan batang kecil, seperti selada, sawi, kol, bunga, seledri, atau
kangkung.
Kegiatan
vertikultur sekaligus dapat memanfaatkan barang-barang bekas seperti kaleng
bekas, gelas bekas air mineral, karung bekas beras dan lain-lain yang tidak
dapat terurai oleh mikrorganisme. Sehingga kita mampu berperan aktif untuk
meningkatkan nilai tambah barang bekas serta mengurangi pencemaran lingkungan
oleh penumpukan sampah-sampah tersebut.
Yang
terpenting, bahan untuk vertikultur bersifat kuat dan fleksibel untuk dipindah
tempatkan. Vertikultur sebagai salah satu sistem budidaya tanaman dapat
dibedakan menjadi beberapa jenis, antara lain:
Vertikultur Vertikal
Vertikultur
vertikal biasanya menggunakan penopang yang kokoh dan berbentuk silinder yang
dapat berdiri tegak pada lahan. Umumnya vertikultur jenis ini menggunakan
penopang berupa paralon atau kayu yang diberdirikan tegak pada lahan, kemudian
pada sisi penopang tersebut ditambahkan wadah penanaman seperti gelas bekas air
mineral.
Vertikultur Horizontal
Vertikultur
horizontal adalah vertikultur yang disusun secara bertingkat seperti rak atau
tangga. Wadah penanaman yang digunakan dapat berupa batang pisang, rak yang
dikombinasikan dengan karung bekas, kaleng bekas dan lain lain.
Vertikultur Gantung
Vertikultur
gantung adalah vertikultur yang cara peletakkan wadah penanamannya yaitu dengan
digantung pada atap bangunan menggunakan tali atau kawat. Wadah penanaman
biasanya berupa botol bekas, pot dan ditanami tanaman hias yang menambah nilai
estetika area tersebut. Vertikultur jenis ini sering terlihat diteras-teras
rumah atau perkantoran.
Vertikultur Susun
Vertikultur
susun hampir mirip jenis vertikultur vertikal. Perbedaannya, vertikultur susun
umumnya berupa pot-pot yang disusun secara vertikal tanpa penopang layaknya
vertikultur vertikal.
Manfaat Vertikultur
Menurut
Sutarminingsih (2003), pengembangan dan penerapan vertikultur dimasyarakat,
khususnya masyarakat area perkotaan, memiliki fungsi dan beberapa manfaat
seperti berikut:
- Mewujudkan keselarasan,
kesejukan, dan keindahan wilayah kota yang dominan dengan berbagai
bangunan dan fasilitas umum serta padat pemukiman penduduk. Sehingga
adanya vertikultur dapat meningkatkan nilai estetika daerah perkotaan.
- Mengkonservasi sumber daya alam
berupa tanah, yang dapat dilakukan dengan mengelola dan menggunakannya
secara tepat dan bijak. Sehingga tanah yang ketersediaannya minimal dapat
dimanfaatkan secara maksimal untuk kegunaan yang berkelanjutan.
- Mengkonservasi sumber daya alam
berupa air. Tanaman yang ditanam secara vertikultur akan lebih terkontrol
secara optimal pasokan air yang dibutuhkan, karena air yang diberikan akan
terserap seluruhnya oleh tanaman sampai mencapai kapasitas titik jenuh
didalam wadah penanaman. Sehingga lebih hemat penggunaan air.
- Mempengaruhi dan merombak
secara mikro terhadap iklim di wilayah perkotaan, karena jumlah tanaman
yang bertambah maka meningkatkan pasokan oksigen yang memberikan dampak
peningkatan kesejukan wilayah tersebut.
- Memaksimalkan pemanfaatan
sampah baik organik maupun non-organik karena digunakan sebagai bahan
vertikultur. Sampah organik dapat digunakan sebagai media dan pupuk
tanaman, sedangkan sampah non-organik dapat digunakan sebagai wadah
penanaman.
- Membantu mengurangi pengeluaran
untuk kebutuhan sehari-hari pada tingkat rumah tangga, sekaligus dapat
memberikan peluang sebagai penghasilan tambahan untuk keluarga.
- Membantu ketersediaan kebutuhan
pangan seperti sayur-sayuran, buah-buahan dan lain-lain di wilayah
perkotaan, yang umumnya bergantung dengan pasokan dari pedesaan. Sehingga
dapat menciptakan kemandirian pangan secara mikro dan meningkatkan
keterampilan masyarakat perkotaan.
Contoh Vertikultur
Tanaman
yang dapat ditanam secara vertikultur dapat berupa tanaman sayur, buah, maupun
biofarmaka. Tanaman sayur seperti kangkung, sawi, pakcoy, seledri, bayam dan
lain-lain. Tanaman buah seperti strawberry, timun dan lain-lain. Tanaman
biofarmaka seperti kunyit, jahe, kencur, jeringau dan lain-lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar