Balai Penyuluhan Pertanian Talawaan
Minggu, 08 November 2020
DATA PRODUKSI PERTANIAN DI KECAMATAN TALAWAAN TAHUN 2019
VERTIKULTUR
Kata “Vertikultur” berasal dari 2 kata bahasa inggris berupa Vertical dan Culture. Vertical artinya tegak lurus atau menurun, dan Culture memiliki arti pemeliharaan, sehingga vertikultur dapat diartikan sebagai teknik pemeliharaan atau pengertian budidaya tanaman dengan pola vertikal (tegak lurus).
Teknik
penanaman secara vertikultur dalam sejarahnya dikenalkan oleh sebuah perusahaan
benih di Swiss pada tahun 1944 yang merujuk sebuah ide Vertical Garden.
Kemudian vertikultur merajalela di negara Eropa yang memiliki iklim sub-tropis.
Pengertian Vertikultur
Pengertian
vertikultur adalah sistem budidaya pertanian yang dilaksanakan secara vertikal
atau bertingkat pada skala indoor maupun outdoor. Umumnya vertikultur dilakukan
menggunakan bangunan atau model wadah tertentu untuk penanaman, tergantung
kondisi tempat dan keinginan setiap orang.
Pengertian Vertikultur Menurut Para Ahli
Sedangkan
menurut definisi vertikultur menurut para ahli, antara lain;
Nitisapto (1993)
Vertikultur
adalah cara bertani atau bercocok tanam menggunakan media tanam dalam
wadah-wadah yang disusun secara vertikal (bertingkat) guna memanfaatkan ruang
atau lahan terbatas.
Indonesia
negara dengan iklim tropis juga mulai menerapkan teknik ini karena sangat
membantu kebutuhan pangan yang meningkat namun ketersediaan lahan yang menurun.
Teknik penanaman secara vertikultur awalnya hanya digunakan untuk ajang pameran
tanaman yang dilaksanakan di taman, kebun maupun rumah kaca.
Saat
ini vertikultur mulai diterapkan dirumah-rumah khususnya para ibu rumah tangga
yang hobi bercocok tanam. Secara umum vertikultur digunakan untuk menanam
sayuran seperti bayam, kangkung, seledri, maupun tanaman hias yang batang
berair.
Jenis Vertikultur
Menurut
Nitisapto (1993), jenis dalam pengertian tabulapot yang dapat digunakan untuk vertikultur yaitu gerabah,
bambu, atau paralon. Jenis-jenis pot tersebut sangat cocok untuk menanam
sayuran dengan batang kecil, seperti selada, sawi, kol, bunga, seledri, atau
kangkung.
Kegiatan
vertikultur sekaligus dapat memanfaatkan barang-barang bekas seperti kaleng
bekas, gelas bekas air mineral, karung bekas beras dan lain-lain yang tidak
dapat terurai oleh mikrorganisme. Sehingga kita mampu berperan aktif untuk
meningkatkan nilai tambah barang bekas serta mengurangi pencemaran lingkungan
oleh penumpukan sampah-sampah tersebut.
Yang
terpenting, bahan untuk vertikultur bersifat kuat dan fleksibel untuk dipindah
tempatkan. Vertikultur sebagai salah satu sistem budidaya tanaman dapat
dibedakan menjadi beberapa jenis, antara lain:
Vertikultur Vertikal
Vertikultur
vertikal biasanya menggunakan penopang yang kokoh dan berbentuk silinder yang
dapat berdiri tegak pada lahan. Umumnya vertikultur jenis ini menggunakan
penopang berupa paralon atau kayu yang diberdirikan tegak pada lahan, kemudian
pada sisi penopang tersebut ditambahkan wadah penanaman seperti gelas bekas air
mineral.
Vertikultur Horizontal
Vertikultur
horizontal adalah vertikultur yang disusun secara bertingkat seperti rak atau
tangga. Wadah penanaman yang digunakan dapat berupa batang pisang, rak yang
dikombinasikan dengan karung bekas, kaleng bekas dan lain lain.
Vertikultur Gantung
Vertikultur
gantung adalah vertikultur yang cara peletakkan wadah penanamannya yaitu dengan
digantung pada atap bangunan menggunakan tali atau kawat. Wadah penanaman
biasanya berupa botol bekas, pot dan ditanami tanaman hias yang menambah nilai
estetika area tersebut. Vertikultur jenis ini sering terlihat diteras-teras
rumah atau perkantoran.
Vertikultur Susun
Vertikultur
susun hampir mirip jenis vertikultur vertikal. Perbedaannya, vertikultur susun
umumnya berupa pot-pot yang disusun secara vertikal tanpa penopang layaknya
vertikultur vertikal.
Manfaat Vertikultur
Menurut
Sutarminingsih (2003), pengembangan dan penerapan vertikultur dimasyarakat,
khususnya masyarakat area perkotaan, memiliki fungsi dan beberapa manfaat
seperti berikut:
- Mewujudkan keselarasan,
kesejukan, dan keindahan wilayah kota yang dominan dengan berbagai
bangunan dan fasilitas umum serta padat pemukiman penduduk. Sehingga
adanya vertikultur dapat meningkatkan nilai estetika daerah perkotaan.
- Mengkonservasi sumber daya alam
berupa tanah, yang dapat dilakukan dengan mengelola dan menggunakannya
secara tepat dan bijak. Sehingga tanah yang ketersediaannya minimal dapat
dimanfaatkan secara maksimal untuk kegunaan yang berkelanjutan.
- Mengkonservasi sumber daya alam
berupa air. Tanaman yang ditanam secara vertikultur akan lebih terkontrol
secara optimal pasokan air yang dibutuhkan, karena air yang diberikan akan
terserap seluruhnya oleh tanaman sampai mencapai kapasitas titik jenuh
didalam wadah penanaman. Sehingga lebih hemat penggunaan air.
- Mempengaruhi dan merombak
secara mikro terhadap iklim di wilayah perkotaan, karena jumlah tanaman
yang bertambah maka meningkatkan pasokan oksigen yang memberikan dampak
peningkatan kesejukan wilayah tersebut.
- Memaksimalkan pemanfaatan
sampah baik organik maupun non-organik karena digunakan sebagai bahan
vertikultur. Sampah organik dapat digunakan sebagai media dan pupuk
tanaman, sedangkan sampah non-organik dapat digunakan sebagai wadah
penanaman.
- Membantu mengurangi pengeluaran
untuk kebutuhan sehari-hari pada tingkat rumah tangga, sekaligus dapat
memberikan peluang sebagai penghasilan tambahan untuk keluarga.
- Membantu ketersediaan kebutuhan
pangan seperti sayur-sayuran, buah-buahan dan lain-lain di wilayah
perkotaan, yang umumnya bergantung dengan pasokan dari pedesaan. Sehingga
dapat menciptakan kemandirian pangan secara mikro dan meningkatkan
keterampilan masyarakat perkotaan.
Contoh Vertikultur
Tanaman
yang dapat ditanam secara vertikultur dapat berupa tanaman sayur, buah, maupun
biofarmaka. Tanaman sayur seperti kangkung, sawi, pakcoy, seledri, bayam dan
lain-lain. Tanaman buah seperti strawberry, timun dan lain-lain. Tanaman
biofarmaka seperti kunyit, jahe, kencur, jeringau dan lain-lain.
PEMUPUKAN TANAMAN JAGUNG HIBRIDA
Jagung selain untuk keperluan pangan, juga digunakan untuk bahan baku industri pakan ternak, maupun ekspor. Teknologi produksi jagung sudah banyak dihasilkan oleh lembaga penelitian dan pengkajian lingkup Badan Litbang Pertanian maupun Perguruan Tinggi, namun belum banyak diterapkan di lapangan. Penggunaan pupuk urea misalnya ada yang sampai 600 kg/ha jauh lebih tinggi dari kisaran yang seharusnya diberikan yaitu 350-400 kg/ha.
Jagung menghendaki tanah yang subur untuk dapat berproduksi dengan baik. Hal ini dikarenakan tanaman jagung membutuhkan unsur hara terutama nitrogen (N), fosfor (P) dan kalium (K) dalam jumlah yang banyak. Oleh karena pada umumnya tanah di Lampung miskin hara dan rendah bahan organiknya, maka penambahan pupuk N, P dan K serta pupuk organik (kompos maupun pupuk kandang) sangat diperlukan.
Berdasarkan hasil penelitian, takaran pupuk untuk tanaman jagung di berdasarkan target hasil adalah 350-400 kg urea/ha, 100-150 kg SP-36/ha, dan 100-150 kg KCl/ha.
Takaran pupuk dan waktu pemberiannya pada
tanaman jagung, bila menggunakan pupuk tunggal Urea, SP-36 dan KCl. Adapun Waktu pemberian pupuk sebagai
berikut :
7 (tujuh) hari setelah tanam : Urea
= 100 kg/ha; SP-36 = 150 kg/ha dan KCl = 100 kg/ha.
28 – 30 hari setelah tanam : Urea =
150 kg/ha
45 – 50 hari setelah tanam (gunakan BWD) : 100-150
Takaran pupuk dan waktu pemberiannya
pada tanaman jagung bila menggunakan pupuk NPK 15:15:15 (Phonska). Adapun waktu pemupukan sebagai berikut :
7 (tujuh) hari setelah tanam : Phonska = 350
kg/ha
28 – 30 hari setelah tanam : Urea = 150 kg/ha
45 – 50 hari setelah tanam (Gunakan BWD) : Urea = 100-150 kg/ha
Keterangan: BWD = Bagan Warna Daun
Cara Pemupukan.
Cara pemberian pupuk, ditugal sedalam kira-kira 5 cm sekitar 10 cm di samping pangkal tanaman dan ditutup dengan tanah.
Bagan warna daun hanya digunakan pada waktu pemberian pupuk ketiga. Sebelum pemupukan, dilakukan pembacaan BWD dengan cara menempelkan daun jagung teratas yang sudah sempurna terbuka. Waktu pembacaan sebaiknya sore hari agar tidak terpengaruh dengan cahaya matahari.
Pada saat pemupukan III (45-50 hari sesudah tanam), untuk menentukan jumlah pupuk Urea yang diberikan ukur tingkat kehijauan daun menggunakan Bagan Warna Daun (BWD) seperti pada gambar 1.
Warna hijau kekuningan: Skala BWD <4; maka
pemberian Urea 150 kg/ha
Warna hijau : skala BWD 4 – 4,5; maka pemberian
Urea 125 kg/ha
Warna hijau gelap : skala BWD >4,5; maka pemberian Urea 100 kg/ha
Ditulis oleh : Lefira Kaunang, SST_admin Talawaan
PANEN DAN PASCA PANEN TANAMAN JAGUNG
Panen dan Pasca Panen
Pemanenan jagung dilakukan
pada saat jagung telah berumur sekitar 100 hst tergantung dari jenis varietas
yang digunakan. Jagung yang telah siap panen atau sering disebut masak
fisiologis ditandai dengan daun jagung/klobot telah kering, berwarna
kekuning-kuningan, dan ada tanda hitam di bagian pangkal tempat melekatnya biji
pada tongkol. Panen yang dilakukan sebelum atau setelah lewat masak fisiologis
akan berpengaruh terhadap kualitas kimia biji jagung karena dapat menyebabkan
kadar protein menurun, namun kadar karbohidratnya cenderung meningkat. Setelah
panen dipisahkan antara jagung yang layak jual dengan jagung yang busuk, muda
dan berjamur selanjutnya dilakukan proses pengeringan.
Permasalahan akan timbul bila waktu panen yang berlangsung pada saat curah hujan masih tinggi, sehingga kadar air biji cukup tinggi, karena penundaan pengeringan akan menyebabkan penurunan kualitas hasil biji jagung. Cara pengeringan selain dengan penjemuran langsung di ladang, juga dapat dilakukan dalam bentuk tongkol terkupas yang dikeringkan di lantai jemur dengan pemanasan matahari langsung, dan bila turun hujan ditutupi dengan terpal plastik. Cara pengeringan jagung demikian memiliki kelemahan karena mudah ditumbuhi jamur, serangan hama kumbang bubuk, dan kotoran. Selain itu nilai kadar air biji jagung biasanya masih tinggi ( >17%).
Penundaan panen selama 7 hari setelah masak fisiologis dapat membantu proses penurunan kadar air dari 33% menjadi 27%. Namun penundaan pengeringan dengan cara menumpuk tongkol jagung yang telah dipanen di atas terpal selama 3–5 hari, meskipun mampu menurunkan kadar air akan tetapi dapat menyebabkan terjadinya serangan cendawan sampai mencapai 56-68%, sedangkan tanpa penundaan pengeringan, serangan cendawan dapat ditekan menjadi hanya berkisar antara 9-18%.
Penyebab lain terjadinya kerusakan pada biji jagung adalah karena adanya luka pada saat pemipilan, dan ini terjadi jika saat pemipilan kadar air biji masih tinggi (>20%). Biji yang terluka pada kondisi kadar airnya masih tinggi menyebabkan mudah terinfeksi oleh cendawan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemipilan jagung pada kadar air 15-20% dapat menimbulkan infeksi cendawan maksimal mencapai 5%. Dengan menggunakan alat dan mesin pemipil pada kadar air biji jagung 35%, infeksi cendawan mencapai 10-15%. Sehingga dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi kadar air biji dan semakin lama disimpan, peluang terinfeksi cendawan akan lebih besar. Demikian halnya dengan tingkat serangan hama kumbang bubuk.
Persyaratan kualitatif dan kuantitatif jagung
Umumnya produk hasil pertanian bersifat bulky (segar dan mudah rusak) . Kerusakan hasil pertanian dapat disebabkan oleh dua faktor yaitu faktor dalam (internal) dan faktor luar (eksternal). Kerusakan tersebut mengakibatkan penurunan mutu maupun susut berat karena rusak, memar, cacat dan lain-lain. Kelemahan lain dari hasil pertanian ini adalah biasanya bersifat musiman, sehingga tidak dapat tersedia sepanjang tahun.
Persyaratan
mutu jagung untuk perdagangan menurut Standar Nasional Indonesia (SNI)
dikelompokkan menjadi dua bagian yaitu persyaratan kualitatif dan persyaratan
kuantitatif.
Persyaratan kualitatif meliputi :
Produk harus
terbebas dari hama dan penyakit.
Produk terbebas dari bau
busuk maupun zat kimia lainnya (berupa asam).
Produk harus terbebas dari bahan dan sisa-sisa pupuk maupun pestisida.
Pengendalian Mutu
Pengendalian mutu merupakan usaha mempertahankan mutu selama proses produksi sampai produk berada di tangan konsumen pada batas yang dapat diterima dengan biaya seminimal mungkin. Pengendalian mutu jagung pada saat pasca panen dilakukan mulai pemanenan, pengeringan awal, pemipilan, pengeringan akhir, pengemasan dan penyimpanan.
Umumnya petani menyimpan jagung pipilan dalam karung goni atau plastik, kemudian disimpan di dalam rumah (di lantai atau di atas loteng). Penyimpanan cara demikian menyebabkan jagung hanya dapat bertahan selama kurang lebih 2 bulan karena dapat terserang oleh hama gudang Dolesses viridis, Sitophillus zeamais, dan Cryptoleptes presillus.
Besarnya kehilangan dan kerusakan jagung setelah pemanenan sampai penyimpanan berkisar 8,6 - 20,2% yang disebabkan oleh serangan serangga, jamur, tikus, kondisi awal penyimpanan, cara dan alat penyimpanan serta faktor lingkungan. Penyimpanan jagung untuk benih harus menggunakan wadah yang tertutup rapat sehingga kedap udara dan tidak terjadi kontak dengan udara yang menyebabkan biji jagung menjadi rusak dan menurun daya tumbuhnya.
Penyimpanan jagung untuk benih dapat menggunakan wadah logam yang dilengkapi dengan absorban/penyerap (biasanya digunakan abu sekam) yang berguna untuk mengurangi kelembaban di dalam wadah penyimpanan.
Bila tidak menggunakan wadah yang dilengkapi dengan absorban penyimpanan jagung untuk benih juga dapat dilakukan di dalam wadah logam yang tutupnya dilapisi dengan parafin, sehingga benar-benar kedap udara.
Penyimpanan jagung pipilan untuk konsumsi (pangan maupun pakan), dapat dalam karung yang disusun secara teratur atau dapat pula disimpan dalam bentuk curah dengan sistem silo. Penyimpanan ini dapat berfungsi sebagai pengendali harga pada saat harga di pasar jatuh karena kelebihan stok. Setelah harga jual membaik, barulah jagung yang disimpan dilepas ke pasaran.
Ditulis oleh : Lefira
Kaunang, SST_admin Talawaan
x
Kamis, 22 Oktober 2020
PROFIL BPP TALAWAAN
Balai Penyuluhan Pertanian ( BPP ) Kecamatan Talawaan merupakan institusi di bawah Dinas Pertanian Kabupaten Minahasa Utara yang bertanggung jawab dalam penyelenggaraan penyuluhan pertanian khususnya di wilayah Kecamatan Talawaan. BPP Talawaan saat ini mendapat kepercayaan untuk menjadi BPP model Kostratani sesuai arahan Kementerian Pertanian. Sebagai BPP Kostratani, BPP Kalwat memiliki tugas sesuai Permentan No. 49 Tahun 2019, yaitu:
- Melaksanakan koordinasi dan sinergi kegiatan pembangunan pertanian (sub sektor tanaman pangan, hortikultura, peternakan, dan perkebunan) di kecamatan, antara lain: Pendataan dan penguatan data potensi pertanian di kecamatan, meliputi luas baku lahan, luas tanam, produksi, luas panen, produktivitas, alat mesin pertanian pra panen dan pasca panen, dan pengolahan hasil dan pemasaran produk per komoditas; Penguatan pos penyuluhan desa; Penguatan kelembagaan petani dan KEP; Pengusulan anggaran pelaksanaan kegiatan pembangunan pertanian Fasilitasi pengembangan kemitraan petani atau kelompok tani dan pelaku usaha; dan Pendampingan, pengawalan dan penyusunan rencana pelaksanaan program pembangunan pertanian, antara lain varietas, benih atau bibit, pupuk, obat-obatan, pakan, pola tanam, kalender tanam, pascapanen, rencana definitif kelompok tani (RDK) atau rencana definitif kebutuhan kelompok tani (RDKK);
- Membentuk, mengawal dan mendampingi brigade sub sektor sesuai spesifik lokasi;
- Melaksanakan latihan, kunjungan, supervise, dan kegiatan pemberdayaan program pembangunan pertanian
- Melakukan identifikasi permasalahan dan upaya pemecahannya;
- Menyusun, menyajikan dan melaporkan hasil pelaksanaan program pembangunan pertanian kepada Ketua Kostrada dan melalui Teknologi Informasi; dan
- Melaksanakan tugas-tugas lain sesuai dengan ketentuan peraturan-peraturan yang berlaku.
BPP Talawaan berfungsi sebagai tempat pertemuan untuk memfasilitasi pelaksanaan tugas
sebagaimana diamanatkan dalam Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Nomor 16 Tahun
2006 tentang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan. Dalam
menjalankan tugas penyuluhan BPP Talawaan ditunjang oleh 4 personil penyuluh pertanian
yang tersebar di 12 Desa. Personil penyuluhan Pertanian BPP Kecamatan Kalwat
terdiri dari Ferra F. Monareh sebagai Koordinator BPP, dibantu oleh Harry
Tampi, SP, Junus Sondang, A.Md., dan Lefira A. Kaunang, S,ST. Masing-masing
penyuluh memiliki wilayah desa binaan yang menjadi fokus pelaksanaan kegiatan.
Para penyuluh pertanian ini memiliki kemampuan dan keterampilan yang sangat
baik dalam membina dan mendampingi kelompok tani. Hal ini dapat dilihat melalui
keberhasilan para penyuluh dalam memenuhi indikator penilaian yaitu :
- Tersusunnya programa penyuluhan pertanian di BPP sesuai dengan kebutuhan petani.
- Tersusunnya rencana kerja tahunan penyuluhan diwilayah kerja masing masing Penyuluh Pertanian
- Tersedianya data peta wilayah pengembangan teknologi spesifik lokasi sesuai dengan perwilayahan komoditas unggulan
- Terdiseminasinya informasi teknologi pertanian secara merata sesuai kebutuhan petani.
- Tumbuh kembangnya keberdayaan dan kemandirian petani, kelompok tani, kelompok usaha dan usaha formal lainnya
- Terwujudnya kemitraan usaha yang saling menguntungkan antara petani dengan pengusaha
- Terwujudnya akses petani ke lembaga keuangan, informasi sarana produksi pertanian dan pemasaran
- Meningkatnya produktifitas agribisnis komoditas unggulan di masing-masing wilayah kerja
- Meningkatnya pendapatan dan kesejahteraan petani di masing-masing wilayah
Saat ini tercatat ada 12 Gapoktan dan 162 Kelompok Tani menjadi
Binaan BPP Talawaan.